Sabtu, 10 Desember 2016

Skenario Perpecahan.......

Skenario Perpecahan.......

Para wali duduk melingkar di masjid demak, untuk bermusyawarah, dihadiri pula oleh Sultan demak, Raden Fatah.....

Suasana menghangat dan agak meninggikan tensi, para wali saling beradu argumen, tentang wacana penting, nasib ummat islam di Jawa...... Wacana perang di gelar, agar ummat islam angkat senjata...... Karena sudah waktunya, islam dimusuhi, banyak ummat dianiaya, di dzalimi, dihalangi untuk menjalankan ibadah yang diyakini......

Sunan Gresik dan Sunan Kudus telah mendukung dan menyetujui wacana angkat senjata...... Namun Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga menolak, karena perang merugikan rakyat kecil, menyengsarakan, dan mengakibatkan balas membalas, dendam yang tak berkesudahan...... Lagi pula, tidak elok bilamana menumpahkan darah saudara sedarah sendiri, anak melawan bapak, adik melawan kakaknya.....

Kesepakatan tak tercapai, suara terpecah menjadi 2 kubu, yaitu kubu "pro-perang" dan kubu "anti perang"...... Begitu sulitnya keadaan..... Akhirnya keputusan dikembalikan kepada Raden Fatah, sebagai Sultan demak, untuk memutuskan, apakah wacana perang dijalankan, ataukah tidak?.....

Raden Fatah memutuskan "PERANG", angkat senjata, agar ummat islam melawan, menghancurkan tirani Majapahit yang memerangi islam......

Sunan Bonang memilih untuk tidak melibatkan diri, sejak saat itu hubungannya dengan Raden Fatah mengalami kerenggangan...... Memilih untuk menepi dan menyepi, berkonsentrasi mengajar para santrinya di Bonang......

Sunan Kalijaga juga turut menepi dari perkara ini, menjadi pengamat saja, memperhatikan segala situasi dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk menghentikan perang, dan mengembalikan kedamaian......

Sunan Kudus ditunjuk sebagai Senopati perang, ahli strategi, mengatur barisan untuk menggempur kekuatan Brawijaya, raja Majapahit......

Perang pun pecah, sampai Majapahit terdesak, Brawijaya melarikan diri ke Banyuwangi beserta sisa-sisa prajuritnya...... Sunan Kalijaga bergegas, berkuda ke Banyuwangi, menyusul Brawijaya untuk menyudahi perang...... Maka Sunan Kalijaga meminta Brawijaya menyerahkan tahta, harta serta pusaka Majapahit secara damai, karena ini cara satu-satunya perang dihentikan yang telah menyengsarakan rakyat banyak. Bahwa tahtanya tak jatuh ke orang lain, melainkan ke anaknya sendiri yaitu Raden Fatah......

Namun tidak mudah meyakinkan Brawijaya, karena Brawijaya telah sakit hati, merasa dikhianati, karena dahulu dialah yang memberi kebebasan dan jaminan keamanan bagi umat islam agar tidak di ganggu dalam menyebarkan agama islam. Tetapi setelah islam kuat, menyerang dan hendak membunuhnya..... Lagi pula, Brawijaya mempertanyakan nasibnya, selayaknya jika Raja kalah, maka akan dipermalukan, mungkin diikat, dianiaya dan dibunuh pelan-pelan dialun-alun untuk dipertontonkan.......

Sunan Kalijaga akhirnya berhasil meyakinkan Brawijaya, dengan menjaminkan nyawanya sendiri, sebagai jaminan bahwa Brawijaya tidak akan disakiti bilamana menyerah secara damai..... Jika Brawijaya disakiti, maka Sunan Kalijaga yang akan menggantikan semua hukuman bagi Brawijaya, termasuk jika hendak membunuh Brawijaya, maka Sunan Kalijaga yang akan menanggung kematian terlebih dahulu.......

Brawijaya menyerah secara damai, mewariskan tahta kepada penguasa Demak, yaitu Raden Fatah, Lalu diasingkan di Bromo, tanpa gangguan dan dijamin hidupnya......

Perang berhasil dihentikan oleh Sunan Kalijaga, kedamaian dikembalikan lagi, tidak ada lagi pertumpahan darah.....









4 komentar: